Rabu, 25 September 2024

Bel Pak Tiko Setiap pagi, tepat pukul 7, Pak Tiko masuk ke kelas 3A . Langkahnya yang tegap dan suara sepatunya yang khas selalu membuat murid-murid bergegas merapikan meja mereka. Hari ini tidak berbeda. "Selamat pagi, anak-anak!" sapa Pak Tiko dengan suara lantangnya. "Selamat pagi, Pak!" jawab murid-murid serempak. Pak Tiko tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah bel kecil dari sakunya. Dia membunyikan bel itu tiga kali. "Tung! Tung! Tung!" Seketika, murid-murid membuka tas mereka dan mengeluarkan buku tugas matematika. Mereka sudah terbiasa dengan rutinitas ini. Setiap kali Pak Tiko membunyikan bel tiga kali, artinya saatnya mengumpulkan tugas matematika. Minggu-minggu berlalu. Setiap pagi, Pak Tiko masuk kelas, menyapa, lalu membunyikan bel. dan setiap kali, murid-murid secara otomatis mengeluarkan tugas mereka. Suatu hari, Pak Tiko masuk kelas tanpa membawa bel. Dia lupa memasukkannya ke saku. Namun, begitu dia berdehem tiga kali, "Ehem! Ehem! Ehem!" seluruh kelas langsung mengeluarkan buku tugas mereka. Pak Tiko tersenyum lebar. Dia telah berhasil mengondisikan murid-muridnya untuk mengasosiasikan suara tertentu dengan tindakan mengumpulkan tugas. Tanpa sadar, dia telah menerapkan teori Pavlov dalam kelasnya. Sejak saat itu, Pak Tiko semakin yakin bahwa metode pengajaran yang konsisten dapat membentuk kebiasaan positif pada murid-muridnya. Bel kecil itu mungkin sederhana, tapi dampaknya pada kedisiplinan kelas sungguh luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar